Monday, August 01, 2005

Masih soal Robert

Inilah pernyataan menarik yang dilontarkan Robert T Kiyosaki dalam bukunya, 'Rich Dad Poor Dad' (RDPD). Buku ini merupakan karya pertama dari trilogi Kiyosaki, bersama dua buku lainnya, 'Cashflow Quadrant (CQ)' dan 'Rich Dad: Guide to Investing' (RDGI). Dan tentu saja trilogi yang ditulis bareng dengan kawan lamanya, Sharon L Lechter, kini jadi buku 'bestseller' versi 'New York Times.'

Sebagai pengarang berperspektif unik mengenai bisnis, Kiyosaki memang mengkhususkan diri menulis buku-buku bertema ekonomi. Dasar pemikirannya sangat sederhana: Jabatan, karier, maupun kepandaian, tidak bisa menjamin seseorang menjadi kaya. Itu sebabnya, menurut Kiyosaki, konsep pendidikan yang menekankan bahwa ''anak sekolah harus pintar'' harus diubah total. Ini agar kita tidak terkurung dalam 'rat race,' kehidupan yang tak cerdas.

''Alasan utama orang bersusah payah secara finansial adalah karena mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah, tetapi tidak belajar apa pun mengenai uang,'' ujar Kiyosaki yang pernah menjadi staf pengajar bisnis dan investasi. ''Hasilnya adalah orang bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi tak pernah belajar agar uang bekerja untuk mereka.''

Sebagai pengganti, Kiyosaki melontarkan gagasan 'how to get rich.' Ada enam kiat yang dapat diaplikasikan untuk menjadi orang kaya. Pertama, ''Orang Kaya Tidak Bekerja Untuk Uang'' (hlm 13). Ini bisa jadi cara efektif menghindari kemiskinan. Sebab, kata Kiyosaki, orang miskin tidak memiliki kebebasan finansial dalam hidupnya. Penghasilannya selalu habis untuk membiayai kewajibannya.

Kiat kedua, penguasaan atas empat konsep bisnis -- yaitu pemasukan, pengeluaran, neraca aset, dan liabilities. Secara detil kiat ini diungkap dalam item ''Mengapa Mengajarkan Melek Finansial'' (hlm 57). Ketiga, anjuran untuk memulai bisnis sendiri sebagai jalan awal menuju kekayaan. Ini diungkapnya dalam bab ''Uruslah Bisnis Anda Sendiri'' (hlm 93). Sedang kiat keempat Kiyosaki terasa lebih teknis, yaitu ihwal ''Sejarah Pajak dan Kekuatan Korporasi'' (hlm 105). Intinya, bila kita bagaimana mengatur pajak, maka pengetahuan ini akan mendatangkan kekayaan.

Masih ada kiat kelima, yaitu ''Orang Kaya Menciptakan Uang'' (hlm 121). Di sini Kiyosaki membahas ihwal 'kecerdasan finansial' orang kaya dalam mengelola uang. Kecerdasan itu antara lain, dapat membedakan 'good and bad liabilities, good and bad debt, good and bad expenses,' dan 'good and bad risk.' Dibahas pula tentang investasi sebagai teknik orang kaya menciptakan uang.

Kiat terakhir yang disodorkan Kiyosaki adalah ''Bekerja Untuk Belajar, Jangan Bekerja Untuk Uang'' (hlm 149). Ajaran ini terkait dengan perubahan paradigma era informasi, dari 'school smart' ke 'school smart' dan 'street smart.' Artinya, selain diperlukan kecerdasan akademis, untuk jadi orang kaya, dibutuhkan juga 'ilmu jalanan' yang tidak didapat di bangku sekolah.

Tentu saja Kiyosaki tak mencipta kiat ini dari ilmu ekonomi yang dipelajarinya secara formal. Tapi, lebih bertumpu pada renungan tentang kisah hidupnya sendiri. Seperti yang dikutip di 'RDPD', yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pertama kali September 2001, sukses karier bisnis Kiyosaki diawali sejak 1997 dengan mendirikan perusahaan dompet berbahan nylon. Di tahun 1985 kegiatan bisnis pengusaha kelahiran Hawaii ini mulai dikurangi, tetapi kegiatan investasi tetap dilakukan. Dari sanalah Kiyosaki terus menuai sukses.

Menurut Tri Utomo Wiganarto, konsultan West Java Corridor, trilogi Kiyosaki ini hampir sepenuhnya berbicara tentang pembentukan karakter pribadi kita dan hanya sedikit yang membahas masalah teknis. ''Pendekatan Kiyosaki adalah pendekatan 'leaderships' yang dituangkan dalam bahasa yang membumi,'' kata Tri Utomo dalam acara bedah buku trilogi Kiyosaki di Bandung belum lama ini. ''Pemikiran Kiyosaki mengubah paradigma berpikir kita menjadi lebih terbuka.''

Rendra Hertiadhi, marketing dan corporate director PT Myohdotcom Indonesia Tbk, menilai bahwa empat konsep bisnis Kiyosaki sangat aplikatif. Bila kita mengadopsi konsep 'bad liabilities' -- seperti spekulasi utang -- risikonya sangat tinggi. Selama utang sesuai rencana, tidak jadi masalah. Asal, sumber pembayaran utang bukan dari kantong sendiri, melainkan dari aset bisnis yang kita ciptakan. ''Jadi, pembahasan Kiyosaki tentang 'bad and good liabilities' sangat tepat,'' ujarnya.

Buku 'RDPD' secara keseluruhan memaparkan serangkaian petunjuk agar kita berusaha mendekati impian kita untuk menjadi kaya. Tetapi di akhir buku, Kiyosaki menegaskan bahwa semuanya berpulang pada seberapa keras usaha dan kontrol diri Anda. Buku kedua, 'CQ,' dicetak enam kali sepanjang tahun 2001. Di sini Kiyosaki menciptakan sebuah model yang disebut 'cashflow quadrant.' Model ini terdiri dari empat kuadran yang memetakan empat posisi orang dalam konteks finansial.

Buku setebal 330 halaman dan terdiri dari 18 bab ini memberikan petunjuk bagi kita untuk mengetahui di kuadran mana posisi kita dan membantu kita untuk berpindah ke kuadran yang lebih baik. Empat kuadran tersebut adalah kuadran E ('employee'), kuadran S ('self employee'), kuadran B ('business ownners'), dan kuadran I ('investor').

Di bagian pertama buku ini, Kiyosaki memaparkan perbedaan inti dari orang-orang pada masing-masing kuadran dengan menganalisis kata-kata mereka. Bagian kedua merupakan tahap-tahap membangkitkan potensi yang ada dalam diri untuk menjadi kaya. Bagian ketiga buku ini diisi nasehat Kiyosaki menjadi 'business ownners' dan 'investor' yang sukses. Intinya adalah kontrol diri, investasi, dan manajemen. Selain itu juga disuguhkan tujuh langkah menemukan jalur cepat kebebasan finansial Anda (Bab 11).

Buku ketiga, 'RDGI,' baru selesai diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia tiga pekan lalu. Buku ini lebih banyak memberikan petunjuk teknis investasi serta pelajaran tentang bagaimana mempertahankan bisnis yang telah Anda bangun. Ada tiga hal yang menurut Kiyosaki dapat dilakukan untuk mempertahankan bisnis kita, yaitu dengan menyumbangkan kecerdasan, pengalaman, dan uang Anda pada pihak-pihak yang membutuhkan.

Perry Tristianto, raja 'factory outlet' Bandung, mengaku bahwa gara-gara teori Kiyosaki, ia yang memulai kariernya di kuadran E sekarang mampu bermain di kuadran B . ''Pelajaran dari Kiyosaki sebagian besar terjadi pada kehidupan saya,'' papar Perry.

Terdiri dari kurang lebih 400 halaman, buku ini memberikan pandangan komprehensif mengenai pemikiran-pemikiran Kiyosaki dalam bentuk tips-tips yang dikemas secara menarik. Semuanya digelar dalam bahasa yang sederhana dan sistematis. Artinya bisa dicerna dengan mudah oleh siapa pun.

Di tengah terpuruknya perekonomian kita, trilogi Kiyosaki memang menawarkan angin segar. Apalagi buku ini memang ditulis Kiyosaki pada suatu periode hidupnya yang serba sulit. Kiyosaki sempat mengalami keterpurukan, kehilangan tempat tinggal, menjadi orang yang terpinggirkan, dan jatuh sakit.

''Di saat semua pihak tidak yakin kita bisa bangkit, buku ini benar-benar memberikan inspirasi pada kita. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengarahkan kekuatan diri sendiri untuk membangun sesuatu,'' kata Tri Utomo.

Robert T. Kiyosaki

Bagi para pembaca buku Rich Ded Poor Dad, pasti tidak asing lagi dengan nama Robert T. Kiyosaki. [Kalo belum tau, tanyakan aja ke pak dhe Lantip, ia akan menjelaskan dengan detil karena ia pernah ngirim surat kepadanya :D ] Ya, pengarang buku ini telah banyak mengispirasi para pebisnis untuk “melangkah”, tidak hanya berkutat pada quadran yang tidak menjadikan “cepat kaya”. Bukunya yang konon mengajarkan “bagaimana menjadi kaya dengan cepat” itu selalu menggoda untuk dibeli. Bagaimana tidak, siapa sih yang tidak mempunyai keinginan kaya? Setiap orang miskin pasti menginginkannya. Dan saya pun termasuk salah satunya, sehingga, saya turut membeli salah satu buku dari Kiyosaki ini.

Dulu, di sekolah komputer, ada juga pembekalan leadership dan bisnis. Selain buku Hermawan Kertajaya, salah satu buku yang diajarkan adalah Rich Dad Poor Dad ini. “Ada empat posisi seseorang dalam pekerjaannya. Posisi itu menurut buku ini disebut cashflow quadran,” terang pak Yasak —salah satu pengajar di sekolah sekaligus pendiri sekolah komputer— sambil memegang buku bewarna putih. Beliau ini merupakan orang yang telah banyak berjasa dalam hidupku. Selain memberi beasiswa untuk belajar komputer, beliau juga orang yang telah memberi peluang pekerjaan kepadaku.

“Kebanyakan dari kita hanya berkutat pada posisi pekerja, sehingga bertahun-tahun yang diperoleh ya hanya pekerja,” terangnya. Maksudnya, kita harus bisa menjadi pengusaha mandiri. Atau bahkan, —menurut saran buku— tingkat yang paling tinggi adalah menjadi investor.

Tidak ada penjelasan lebih detail mengenai ucapannya, bagaimanakah menjadi investor itu, mengingat kami —saya, Pak Yasak, dan teman satu kelas— hanya hidup di daerah yang jauh dari kota besar. Yang lebih ditekankan oleh pak Yasak sebenarnya adalah keberanian untuk mencoba melangkah untuk menjadi pengusaha, dan tidak menjadi seorang pekerja mandiri —yang konon seperti robot.

Terus terang, ajarannya sampai saat ini masih melekat, tetapi sama sekali belum mampu menggerakkan dalam kehidupanku. Penjelasan itu benar adanya, selama ini orang malas untuk berusaha disebabkan karena takut risiko. Buku Kiyosaki yang mendobrak itu, lebih banyak mengajarkan untuk “berani melangkah” —walau sangat ekstrim, dan kemudian dengan penelitian pakar, sarannya malah membuat miskin.

Ajaran Robert T Kiyosaki memang terlalu “berani”. Bagaimana tidak, setelah saya membaca saran-sarannya, banyak hal yang sama sekali sulit dinalar. “Jangan bekerja untuk uang; biarkanlah uang yang bekerja untukmu,” katanya. Terlebih ia mengesahkan menikmati hidup dari kredit/utang, yang kemudian berinvestasi —yang konon risikonya sangat tinggi. Dari sinilah, banyak para “bisnis gelap” —multi level marketing, dll— mengitip jargon ini untuk merayu “para korban”.

Semenjak buku pertamanya yang laris manis, Kiyosaki tidak berhenti sampai di situ saja. Buku-buku berikutnya —seri Rich Dad— selalu menjadi incaran para pemburu buku dan juga para pebisnis. Ia bahkan kemudian dikenal sebagai mahaguru bisnis, yang memberi seminar bisnis dibelahan dunia. Konon tiket mengikuti seminarnya mencapai harga yang fantastis.

Ketika muncul buku Kisah Sukses seri Rich Dad —entah buku seri yang ke berapa dan judul detailnya apa— di Jawa Pos ada tulisan seseorang editor yang cukup menarik. Ia mencoba menjelaskan siapa sih sebenarnya Kiyosaki itu. Di sana ditulis, Kiyosaki tidak lebih hanyalah seorang pengarang buku sukses, dan bukan pebisnis (!). Dia tidak dikenal di “sejarah perbisnisan”, dan baru diketahui namanya setelah mengarang “buku ajaib”-nya yang laris bak kacang goreng. Itupun bukan dikenal sebagai pebisnis.

Penulis artikel tersebut menyarankan untuk menimbang kembali ketika membeli bukunya. Akan lebih baik membeli buku usahawan sukses yang sebenarnya, dan bukan “penceramah” bisnis seperti Kiyosaki. Bagi para bebisnis ada banyak buku alterntif yang lebih inspiratif mulai dari Sun Tzu, Stephen R. Covey, Henry Ford, Jack Welch, Lee Iacoca, Warren Buffett, Rupert Murdoch, Donald Trump, Sam Walton, Richard Branson, Michael Dell, atau bahkan, Bill Gates. [yang terakhir banyak yang mencela karena keangkuhannya dengan usahanya. Kill Bill™ :D ]

Menurut kisahnya di Rich Dad Poor Dad, Kiyosaki belajar bisnis dengan mencermati dua sosok ayah yang sangat berbeda karakter. Yang satu ayah yang berkarakter konglomerat dan yang satu ayah yang berkarakter birokrat. Ayah pertama merupakan ayah yang kaya, sedangkan ayah yang kedua merupakan ayah miskin. Dari kedua ayah tadi, banyak yang bertanya-tanya: “Siapakah sebenarnya ayah Kiyosaki tersebut?” Siapakah ayah kaya dan siapakah ayah miskin itu?

Ayah kandung Kiyosaki sendiri adalah Ralph H. Kiyosaki. Ia merupakan seorang bergelar Ph D yang berkarir di dunia pendidikan dan menjadi kepala departemen pendidikan di Hawaii. Dialah yang konon disebut ayah miskin. Sedangkan, ayah kaya adalah ayah dari seorang teman bermainnya, Mike, tetangga sebelah rumahnya.

Selidik punya selidik, kalau diperhatikan seluruh seri Rich Dad, kita akan menemui kebingungan menetukan siapakah ayah kaya yang dimaksud. Ketika ditanya oleh Smart Money —tidak jelas Smart Money di sini, apakah nama media atau seorang wartawan—, Kiyosaki menjawab bahwa ayah kaya sudah meninggal pada tahun 1992. Tapi kemudian diralat lagi bahwa ayah kaya masih hidup dan sakit-sakitan. Bagaimana tidak, pada seri sebelumnya ia bercerita tentang ayah kaya begini, kemudian seri berikutnya ia bilang begitu. Plin-plan™? Entah.

Terlepas dari itu, Kiyosaki memang orang hebat. Tulisannya yang dirangkai dalam buku tebal itu banyak menginspirasi seseorang untuk berani berbisnis. Beberapa waktu lalu ketika seseorang di Jogjakarta diwawancarai majalah SWA terkait bisnis suksesnya membuka laundry, ia mengakui bahwa berhasil karena berani melangkah, dari quadran E menjadi B —”formula” ciptaan Kiyosaki. Tapi entahlah, apakah hal semacam itu juga merupakan andil buku Rich Dad, saya tidak tahu.