Robert T. Kiyosaki
Bagi para pembaca buku Rich Ded Poor Dad, pasti tidak asing lagi dengan nama Robert T. Kiyosaki. [Kalo belum tau, tanyakan aja ke pak dhe Lantip, ia akan menjelaskan dengan detil karena ia pernah ngirim surat kepadanyaDulu, di sekolah komputer, ada juga pembekalan leadership dan bisnis. Selain buku Hermawan Kertajaya, salah satu buku yang diajarkan adalah Rich Dad Poor Dad ini. “Ada empat posisi seseorang dalam pekerjaannya. Posisi itu menurut buku ini disebut cashflow quadran,” terang pak Yasak —salah satu pengajar di sekolah sekaligus pendiri sekolah komputer— sambil memegang buku bewarna putih. Beliau ini merupakan orang yang telah banyak berjasa dalam hidupku. Selain memberi beasiswa untuk belajar komputer, beliau juga orang yang telah memberi peluang pekerjaan kepadaku.
“Kebanyakan dari kita hanya berkutat pada posisi pekerja, sehingga bertahun-tahun yang diperoleh ya hanya pekerja,” terangnya. Maksudnya, kita harus bisa menjadi pengusaha mandiri. Atau bahkan, —menurut saran buku— tingkat yang paling tinggi adalah menjadi investor.
Tidak ada penjelasan lebih detail mengenai ucapannya, bagaimanakah menjadi investor itu, mengingat kami —saya, Pak Yasak, dan teman satu kelas— hanya hidup di daerah yang jauh dari kota besar. Yang lebih ditekankan oleh pak Yasak sebenarnya adalah keberanian untuk mencoba melangkah untuk menjadi pengusaha, dan tidak menjadi seorang pekerja mandiri —yang konon seperti robot.
Terus terang, ajarannya sampai saat ini masih melekat, tetapi sama sekali belum mampu menggerakkan dalam kehidupanku. Penjelasan itu benar adanya, selama ini orang malas untuk berusaha disebabkan karena takut risiko. Buku Kiyosaki yang mendobrak itu, lebih banyak mengajarkan untuk “berani melangkah” —walau sangat ekstrim, dan kemudian dengan penelitian pakar, sarannya malah membuat miskin.
Ajaran Robert T Kiyosaki memang terlalu “berani”. Bagaimana tidak, setelah saya membaca saran-sarannya, banyak hal yang sama sekali sulit dinalar. “Jangan bekerja untuk uang; biarkanlah uang yang bekerja untukmu,” katanya. Terlebih ia mengesahkan menikmati hidup dari kredit/utang, yang kemudian berinvestasi —yang konon risikonya sangat tinggi. Dari sinilah, banyak para “bisnis gelap” —multi level marketing, dll— mengitip jargon ini untuk merayu “para korban”.
Semenjak buku pertamanya yang laris manis, Kiyosaki tidak berhenti sampai di situ saja. Buku-buku berikutnya —seri Rich Dad— selalu menjadi incaran para pemburu buku dan juga para pebisnis. Ia bahkan kemudian dikenal sebagai mahaguru bisnis, yang memberi seminar bisnis dibelahan dunia. Konon tiket mengikuti seminarnya mencapai harga yang fantastis.
Ketika muncul buku Kisah Sukses seri Rich Dad —entah buku seri yang ke berapa dan judul detailnya apa— di Jawa Pos ada tulisan seseorang editor yang cukup menarik. Ia mencoba menjelaskan siapa sih sebenarnya Kiyosaki itu. Di sana ditulis, Kiyosaki tidak lebih hanyalah seorang pengarang buku sukses, dan bukan pebisnis (!). Dia tidak dikenal di “sejarah perbisnisan”, dan baru diketahui namanya setelah mengarang “buku ajaib”-nya yang laris bak kacang goreng. Itupun bukan dikenal sebagai pebisnis.
Penulis artikel tersebut menyarankan untuk menimbang kembali ketika membeli bukunya. Akan lebih baik membeli buku usahawan sukses yang sebenarnya, dan bukan “penceramah” bisnis seperti Kiyosaki. Bagi para bebisnis ada banyak buku alterntif yang lebih inspiratif mulai dari Sun Tzu, Stephen R. Covey, Henry Ford, Jack Welch, Lee Iacoca, Warren Buffett, Rupert Murdoch, Donald Trump, Sam Walton, Richard Branson, Michael Dell, atau bahkan, Bill Gates. [yang terakhir banyak yang mencela karena keangkuhannya dengan usahanya. Kill Bill™
]
Menurut kisahnya di Rich Dad Poor Dad, Kiyosaki belajar bisnis dengan mencermati dua sosok ayah yang sangat berbeda karakter. Yang satu ayah yang berkarakter konglomerat dan yang satu ayah yang berkarakter birokrat. Ayah pertama merupakan ayah yang kaya, sedangkan ayah yang kedua merupakan ayah miskin. Dari kedua ayah tadi, banyak yang bertanya-tanya: “Siapakah sebenarnya ayah Kiyosaki tersebut?” Siapakah ayah kaya dan siapakah ayah miskin itu?
Ayah kandung Kiyosaki sendiri adalah Ralph H. Kiyosaki. Ia merupakan seorang bergelar Ph D yang berkarir di dunia pendidikan dan menjadi kepala departemen pendidikan di Hawaii. Dialah yang konon disebut ayah miskin. Sedangkan, ayah kaya adalah ayah dari seorang teman bermainnya, Mike, tetangga sebelah rumahnya.
Selidik punya selidik, kalau diperhatikan seluruh seri Rich Dad, kita akan menemui kebingungan menetukan siapakah ayah kaya yang dimaksud. Ketika ditanya oleh Smart Money —tidak jelas Smart Money di sini, apakah nama media atau seorang wartawan—, Kiyosaki menjawab bahwa ayah kaya sudah meninggal pada tahun 1992. Tapi kemudian diralat lagi bahwa ayah kaya masih hidup dan sakit-sakitan. Bagaimana tidak, pada seri sebelumnya ia bercerita tentang ayah kaya begini, kemudian seri berikutnya ia bilang begitu. Plin-plan™? Entah.
Terlepas dari itu, Kiyosaki memang orang hebat. Tulisannya yang dirangkai dalam buku tebal itu banyak menginspirasi seseorang untuk berani berbisnis. Beberapa waktu lalu ketika seseorang di Jogjakarta diwawancarai majalah SWA terkait bisnis suksesnya membuka laundry, ia mengakui bahwa berhasil karena berani melangkah, dari quadran E menjadi B —”formula” ciptaan Kiyosaki. Tapi entahlah, apakah hal semacam itu juga merupakan andil buku Rich Dad, saya tidak tahu.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home